Sabtu, 24 Desember 2011

fermentasi asam laktat

LAPORAN TETAP PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI II ( PEMBUATAN VIRGIN COCONUT OIL ( VCO ) MELALUI PERMENTASI ASAM LAKTAT ) DISUSUN OLEH : NAMA : SUKRIADI NIM : 09211433 KELAS : V G CO ASS : ZULASTHREE AGUSTIAN. S LABORATORIUM BIOLOGI FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM IKIP MATARAM 2011/2012 LAPORAN TETAP PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI II ( PEMBUATAN VIRGIN COCONUT OIL ( VCO ) MELALUI PERMENTASI ASAM LAKTAT ) Diajukan KepadaLaboratorium Biologi Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Mataram Sebagai Syarat Mengikuti Ujian Akhir Praktikum Oleh: Sukriadi NIM. 08.211.433 LABORATORIUM BIOLOGI JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN IPA INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN MATARAM 2011/ 2012 LEMBAR PENGESAHAN Laporan tetap praktikum mikrobiologi II ini atas nama : Sukriadi NIM : 09211433 dibuat sebagai salah satu syarat untuk mengikuti ujian akhir praktikum. Disahkan pada tanggal,................Desember 2011 Nama Paraf 1. Masi’ah (……………………….) ( Dosen Pembina mata kuliah ) 2. Juli hasnata (…………….…………) ( Coordinator praktikum ) 3. Zulasthree agustian safitri (………………………) ( Co ass akelas VG ) Mengetahui Kepala laboratorium biologi Fakultas pendidikan matematika dan ilmu pengetahuan alam IKIP MATARAM ( Fahrul yadi, S.Pd ) KATA PENGANTAR Segala puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah subhanahu wata`ala atas berkat rahmat, petunjuk serta hidayahnya kepada kita semua sehingga penyusunan laporan tetap praktikum Mikrobiologi II tentang “ Pembuatan Virgin Coconut Oil melalui permentasi asam laktat “ ini dapat selesai tepat pada waktunya. Pertama-tama penyusun mengucapkan terimakasih kepada teman-teman yang telah membantu dan bekerjasama dalam praktikum mikrobiologi II ini, tak lupa juga penyusun mengucapkan banyak-banyak terimakasih kepada kakak-kakak co ass yang telah membimbing kami dengan ramah sehingga dalam praktikum dan pengamatan, kami tidak mengalami kesulitan dan saat penyusunan laporan tetap ini kami tidak mengalami kesulitan. Harapan penyusun dengan telah berakhirnya pengamatan tersebut dapat memberikan kita pemahaman yang lebih mendalam terhadap manfaat VCO serta peranannya dalam kehidupan kita dan semoga memberikan manfaat yang banyak kepada kita semua dan para pembaca. Penyusun menyadari bahwa dalam penyusunan laporan tetap ini terdapat banyak sekali kekurangan dan kesalahan, dari itu dapi penyusun mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi kesempurnann penyusunan laporan selanjutnya semoga lebih baik lagi. Mataram,…………...Desember 2011 Penyusun Daftar isi HALAMAN JUDUL i HALAMAN PENGESAHAN ii KATA PENGANTAR iii DAFTAR ISI iv BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang 1 B. Tujuan penelitian 2 BAB II KAJIAN PUSTAKA 3 A. Lasandasan teori 3 B. Kerangka berfikir 4 BAB III METODE PENELITIAN 5 A. Waktu dan tempat penelitian 5 1. Waktu penelitian 5 2. Tempat penelitian 5 B. Rancangan penelitian 6 C. Instrument penelitian 7 1. Alat 7 2. Bahan 8 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 9 A. Hasil penelitian 9 B. Pembahasan 10 BAB V PENUTUP 11 A. Kesimpulan 12 B. Saran 12 DAFTAR PUSTAKA 13 BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah membawa pemikiran-pemikiran baru dalam pengembangan buah kelapa menjadi produk yang lebih bernilai ekonomi. Di antara produknya adalah minyak kelapa murni atau biasa disebut Virgin coconut oil (VCO). Selain dengan proses sentrifugasi, VCO juga dapat diekstraksi dengan bantuan mikrobia maupun dengan bantuan enzim. Dewasa ini pembuatan VCO telah mengalami perkembangan yang pesat. untuk menghasilkan minyak kelapa murni: proses panas dan dingin. Secara tradisional, masyarakat membuat minyak kelapa dari santan yang dipanaskan. Hasilnya adalah ampas kelapa, blendo atau blondo, dan minyak goreng. Kalau pemanasan santan ini dilakukan secara terbatas dengan suhu 60°-80° C, minyak yang dihasilkan akan jernih dan bisa dikategorikan sebagai minyak kelapa murni. Kalau pemanasannya mencapai suhu di atas 100° C, hasil minyaknya akan berwarna kuning tua atau kecokelatan. Ini merupakan minyak goreng biasa yang tidak bisa dikategorikan sebagai minyak kelapa murni.Adapun proses dingin itu dengan cara fermentasi. Caranya, parutan kelapa diberi ragi air ketam sawah (yuyu) sebagai biang atau starter. Pada proses selanjutnya, biang ini bisa menggunakan adonan yang telah terfermentasi atau minyak kelapa murni hasil fermentasi yang sudah jadi. Adonan yang telah diberi biang disimpan selama semalam agar terjadi proses fermentasi. Paginya, adonan yang telah lunak dijemur antara dua sampai tiga hari penuh. VCO yang benar-benar bermutu tinggi dihasilkan dari proses fermentasi dengan enzim poligalakturonase, alfa amylase, protease, atau pektinase. Selain penggunaan enzim, fermentasi juga bisa dilakukan dengan bantuan bakteri sacharomyces cerevisiae. Caranya, daging buah kelapa diparut seperti biasa. Dalam volume besar, pemarutan dilakukan dengan mesin. Hasil parutan diambil santannya dengan cara dicampur air kelapa, diaduk-aduk, dan diperas atau dipres. Penggunaan air kelapa dimaksudkan untuk mempercepat proses penggumpalan santan. Setelah didiamkan semalaman, keesokan harinya dilakukan pemisahan antara protein kelapa atau blondo dengan minyak kelapa murni Rahadi f (2005). VCO dapat diperoleh melalui fermentasi starter bakteri tertentu seperti bakteri asam laktat (BAL) atau menggunakan enzim poligalakturonase, alfa amylase, protease, atau pektinase. Enzim-enzim ini dapat diperoleh dari mikrobia, tumbuhan maupun hewan. Pembuatan VCO dengan fermentasi mikrobia khususnya bakteri asam laktat diyakini dapat menghasilkan rendemen minyak yang tinggi serta dapat mengurangi kemungkinan rusaknya beberapa senyawa penting dalam bidang kesehatan (Ali dan Dwyana, 2005). Selain diharapkan akan menghasilkan VCO yang berkualitas, penggunaan bakteri asam laktat juga diharapkan memberikan efek cita rasa dan keawetan produk. Bakteri asam laktat telah digunakan secara luas sebagai agen biokontrol untuk meningkatkan keamanan pangan. Peranan bakteri asam laktat dalam memperbaiki cita rasa serta efek pengawetan pada produk fermentasinya disebabkan bakteri asam laktat dapat memproduksi dan melakukan sekresi berupa senyawa penghambat selain asam laktat dan asam asetat, seperti hidrogen peroksida, bakteriosin, antibiotik, dan reuterin yang sudah dikenal kemampuannya sebagai senyawa penghambat (Axelsson, 1998). B. Tujuan penelitian Dalam melakukan sebuah penelitian tentunya peneliti memiliki tujuan yang ingin dicapai, tujuan peneliti melakukan penelitian dan pengamatan yaitu: untuk membuat Virgin Coconut Oil ( VCO ) melalui fermentasi dengan kultur starter Lactobacillus casei dan Streptococcus thermophylus. BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Lasandasan teori Tanaman kelapa (Cocos nucifera.) termasuk jenis tanaman palma yang memiliki multi fungsi karena hampir semua bagian dari tanaman tersebut dapat dimanfaatkan. Tanaman ini banyak dijumpai di Indonesia yang merupakan penghasil kopra terbesar kedua di dunia, sesudah Phillipina. Usaha budidaya tanaman kelapa melalui perkebunan terutama dilakukan untuk memproduksi minyak kelapa yang berasal dari daging buahnya dengan hasil samping berupa ampas kelapa (Hamid, 1999). Pada proses pembuatan minyak kelapa murni (Virgin Coconut Oil), daging kelapa segar yang telah diparut kemudian dikeringkan dan dipres hingga minyaknya terpisah. Hasil samping dari proses pembuatan minyak kelapa murni ini adalah ampas kelapa. Ampas kelapa hasil samping pembuatan minyak kelapa murni masih memiliki kandungan protein yang cukup tinggi (Sardjono, 1989). VCO adalah minyak kelapa yang diproses dari kelapa segar dengan atau tanpa pemanasan dan tidak melalui pemurnian dengan bahan kimia. Dibandingkan dengan minyak kelapa yang diolah secara tradisional, VCO memiliki keunggulan, yaitu kadar air dan asam lemak bebas rendah, tidak berwarna (bening), beraroma harum, dan daya simpan lebih lama (Timoti, 2005). Mengeluarkan minyak kelapa jenis VCO dari dagingnya selain dengan cara pancing atau metode emulsi, dapat juga dilakukan dengan cara fermentasi. Fermentasi adalah adalah proses produksi energi dalam sel dalam keadaan anaerobik (tanpa oksigen). Secara umum, fermentasi adalah salah satu bentuk respirasi anaerobik, akan tetapi, terdapat definisi yang lebih jelas yang mendefinisikan fermentasi sebagai respirasi dalam lingkungan anaerobik dengan tanpa akseptor elektron eksternal. ( wikipedia.org ). Cara ini berhasil dikembangkan oleh peneliti LIPI yang dipublikasikan pada juli 2009 dimana dengan bantuan ragi (inokulum) tempe dapat mengeluarkan minyak kelapa. Dengan cara ini menurut mereka dianggap paling sehat dan murah.( dipost-kan oleh : Abidanish dalam word press.com ). Pembentukan asam laktat dari karbohidrat menyebabkan penurunan pH substrat, sehingga dapat menyebabkan protein yang juga sebagai emulsifier pada krim santan mengalami denaturasidan penggumpalan. Penguraian protein juga berlangsung secara enzimatis oleh enzim aminpeptidase yang dihasilkan oleh bakteri asam laktat yang digunakan sebagai bakteri starter.Aminopeptidase merupakan eksopeptidase yang menguraikan peptide menjadi asam amino. Dengan terurainya karbohodrat dan protein dalam emulsi krim santan, maka molekul minyak akan dibebaskan dan membentuk lapisan tersendiri yang dapat dipisahkan dari bagian lainnya. Proses fermentasi oleh bakteri asam laktat terbukti mampu mengekstraksi minyak dari emulsi krim santan kelapa. Selama proses fermentasi terjadi pemecahan senyawa-senyawa penyusun emulsi krim santan. Senyawa karbohidrat dalam krim santan merupakan sumber karbon bagi bakteri asam laktat yang digunakan sebagai sumber energi dalam metabolisme sel (Nazaruddin dan Yasa, 2001). B. Kerangka berfikir Kelapa merupakan tanaman dari jenis tumbuhan palm, tanman ini hampir dari seluruh organ tubuhnya dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku dan industry, salah satu pemanfaatan dari organ tumbuhan ini yaitu buahnnya yang memberikan kontribusi yang sangat besar dalam bidang idustri dan pertanian, dalam praktikum ini peneliti menggunakan buahnya untuk pembuatan minyak kelapa yaitu minyak yang di sebut dengan virgin coconut oil, pembuatan virgin coconut oil ini menggunakan cara fermentasi, fermentasi ini dilakukan dengan penambahan kultur starter pada tiap-tiap perlakuan, yaitu dengan empat macam perlakuan, keempat macam perlakuan ini satu perlakuan sebagai perlakuan kontrolnya. dani tiga perlakuan bertujuan untuk mengetahui sampai sejauh mana kecepatan dari reaksi enzimatis yang di timbulkan oleh bakteri yang di bubuhi atau dicampurkan dalam krim kelapa hasil saringan santan yang telah di parut. Dalam penelitian ini, dilakukan pembuatan VCO dengan metode fermentasi mengggunakan bakteri asam laktat Lactobacillus casei dan Streptococcus thermophyllus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa VCO dapat diekstraksi dari krim santan kelapa menggunakan BAL L. bulgaricus dan L. casei. Produk VCO hasil penelitian ini mempunyai sifat fisika kimia yang baik dan memenuhi standard baku mutu VCO seperti kadar air, persen asam lemak bebas (FFA), bilangan iod, angka peroksida dan kejernihan. VCO ini juga mempunyai komposisi dan konsentrasi asam lemak yang stabil, kandungan asam laurat yang merupakan asam lemak paling dominan dan penting pada minyak kelapa berkisar antara 47 – 51%. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan buah kelapa atau fructus Cocos nucifera sebagai obyek penelitian, dengan pemberian empat perlakuan, satu sebagi perlakuan control dan tiga perlakuan ditambahkan dengan kultur starter. Diharapkan dengan pemberian kultur starter pada tiga perlakuan dapat mempercepat reaksi enzimatis dengan bantuan bakteri tersebut dan menghasilkan VCO yang banyak. BAB III METODE PENELITIAN A. Waktu dan tempat penelitian 1. Waktu penelitian Dalam penelitian ini, penelitian dilaksanakan dalam dua hari yaitu ; Pada hari pertama dilaksanakan pada hari Senin tanggal 19 Desember 2011 jam 04.00 sampai dengan jam 18.00 wita. Dan pada hari kedua hari Selasa tanggal 20 Desember 2011 pada jam 17.00 sampai dengan jam 18.00 wita 2. Tempat penelitian Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Biologi, Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam IKIP MATARAM. B. Rancangan penelitian Dalam penelitian ini peneliti melakukan penelitian dengan langkah-langkah sebagi berikut : Langkah pertama a. Menyiapkan lima butir kelapa yang dihilangkan kulit endospermnya dan sudah di parut. b. Mencampur hasil parutan kelapa dengan air kelapa yang dengan perbandingan 3 liter untuk lima butir kelapa, kemudian memerasnya sampai mendapatkan santannya. c. Setelah mendapatkan santannya, kemudian menaruh dalam wadah dan mendiamkannya selama 20 menit sampai tiga lapisan terpisah yaitu lapisan skim air dan krimnya. d. Setelah ketiga lapisan terpisah, kami mengambil lapisan krim untuk kemudian di blender selama 10-15 menit. Langkah kedua : a. Setelah selesai di blender kami mengambil krim tersebut sebanyak 250 ml lalu dituang ke dalam empat buah wadah yaitu empat gelas ukuran sedang. b. Setelah keempat gelas terisi kami beri dengan perlakuan, yaitu : a) Perlakuan pertama : kami pakai sebagai perlakuan control b) Perlakuan kedua : kami beri perlakuan dengan penambahan kultur starter Lactobacillus casei sebanyak 5 ml c) Perlakuan ketiga : kami beri perlakuan dengan penambahan kultur starter Streptococcus thermophylus sebanyak 5 ml. d) Perlakuan keempat : kami beri perlakuan dengan pencampuran antara kedua kultur starter dengan volume masing –masing sebanyak 2,5 ml. e) Setelah itu kami menutup keempat gelas dengan penutupnya untuk menghindari kontaminasi bakteri lain. Langkah ketiga : a. Setelah keempat perlakuan selesai, kami menaruhnya dalam ruangan dan memastikan ruangan berada dalam suhu kamar. b. Setelah itu kami mendiamkannya selama 24 jam agar bakteri dapat bekerja dengan baik untuk menghasilkan vco yang bnayak. c. Keesokan harinya kami kembali melakukan pengamatan untuk memastikan hasil kerja dari bakteri yang kami pakai dalam masing-masing perlakuan. C. Instrument penelitian 1. Alat Alat-alat yang digunakan yaitu : a. Becker gelas b. Gelas ukur c. Pipet ukur d. Batang pengaduk e. pH meter ( kertas pH ) f. Kertas saring g. Gelas pop iceukuran sedang 4 buah+penutup h. Baskom ukuran sedang 2 buah i. Saringan santan j. Kertas label k. Sendok 4 biji l. Blender 2. Bahan Bahan-bahan yang digunakan : a. Starter ( Lactobacillus casei dalam minuman yakult ) b. Starter ( Streptococcus thermophylus dalam ragi tempe ) c. 5 butir kelapa yang diambil santannya. d. Air kelapa 3 liter e. Air biasa yang steril. BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil penelitian Tabel hasil pengamatan pemberian perlakuan pada pembuatan Virgin Coconut Oil melalui proses fermentasi denagn kultur starter Lactobacillus casei dan Streptococcus thermmophyllus. Perlakuan Katarter LABCO yang disahkan Ket. Komposisi lapisan Warna minyak Aroma Nilai pH Volume minyak yang dihasilkan Kontrol Blondo Vco Blondo Skim Bening Tengik 4 54 ml pH asam Kultur starte Lactobacillus cassei Blondo Vco Blondo Skim Bening Agak keruh Harum 4 50 ml pH asam Kultur starter Streptococcus thermpophyllus Blondo Vco Blondo Skim Bening Harum 5 58 ml pH asam Kultur starter campuran Blondo Vco Blondo Skim Bening Harum 4 54 ml pH asam B. Pembahasan Metode fermentasi dengan bakteri asam laktat merupakan salah satu alternatif yang dapat digunakan untuk memproduksi VCO dengan rendamen minyak yang cukup tinggi, pengukuran dilakukan dengan memperhatikan karakter LABCO yang disahkan yaitu : 1. Komposisi lapisan Keempat perlakuan memiliki komposisi lapisan yang sama komposisi lapisan pada perlakuan pertama sampai perlakuan keempat terdiri dari tiga lapisan yaitu blondo, VCO, dan skim. 2. Warna minyak Warna minyak pada masing-masing perlakuan terkait dengan aktifitas bakteri yang bekerja, karena bakteri yang di berikan berbeda, lain halnya pada perlakuan control, perlakuan control tidak diberikan starter karena sebagai kontrolnya, sehingga warna minyak bening, pada perlakuan dengan penambahan kultur starter L.casei, warna minyak agak keruh, pada penambahan kultur starter S.thermophyllus warna minyak bening, dan pada penambahan kultur campuran warna minyak juga bening. 3. Aroma Aroma atau bau minyak dari keempat perlakuan berbeda-beda, perbedaan warna ini disebabkan oleh penambahan perlakuan pada masing-masing krim yang berada dalam wadah tersebut, bau tengik pada perlakuan control disebabkan oleh bakteri an aerob yang hinggap ke wadah tersebut, karena penutupan wadah yang tidak benar dan tidak tepat, bakteri an aerob tersebut dapat membantu dalam proses fermentasi akan tetapi dapat juga menimbulkan bau yang lebih menyengat juga. Pada perlakuan ke dua dengan kultur starter Lactobacillus casei dan ke tiga dengan Streptococcus thermophyllus aroma minyak harum dikarenakan oleh bakteri yang digunakan bukan bakteri pathogen tapi bakteri yang dapat membantu dalam proses fermentasi asam laktat dalam pembuatan vco secara lebiih baik dan sempurna, pada perlakuan dengan penambahan kultur starer campuran aroma minyak menjadi tengik, disebabkan oleh aktifitas bakteri yang bekerja secara bersamaan akan menimbulkan efek bau tengik yang menyengat terhadap minyak yang dihasilkan, 4. Nilai pH Berdasarkan pengukuran nilai pH yang dilakukan, pH masing-masing perlakuan berkisar dari 4-5, kadar pH ini menunjukkan bahwa minyak yang dihasilkan mengandung kadar keasaman yang cukup rendah, perbedaan pH yang dihasilkan oleh bakteri tersebut tergantung dari jumlah ketelitian dari penambahan volume larutan kultur strater pada saat penambahan diberikan perlakuan tersebut. 5. Volume minyak yang dihasilkan Pada keempat perlakuan volume yang dihasilkan berkisar dari 50-58 ml. volume yang dihasilkan dari masing-masing perlakuan terkait dari aktifitas bakteri yang bekerja dalam fermetasi asam laktat tersebut. Pada perlakuan control volume minyak yang dihasilkan sebanyak 54 ml, volume ini menunjukkkan bahwa kadar volume yang dihasilkan dari hasil fermentasi banyak. Banyaknya volume ini terkair oleh bakteri yang bekerja dengan sempurna pada pembuatan vco tersebut. Pada perlakuan dengan penambahan kultur starter Lactobacillus casei sebanyak 5 ml, volume minyak yang dihasilkan sebanyak 50 ml. volume ini menunjukkan bahwa bakteri yang di berikan dapat bekerja dalam melakukan fermentasi asam laktat tersebut. Sehingga volume yang dihasilkan ada meskipun tidak banyak. Adanaya volume yang dihasilkan ini menunjukkan bahwa bakteri dapat bekerja dengan baik dalam melakukan fermentasi. Pada perlakuan dengan penambahan kultur starter Streptococcus thermophyllus sebanyak 5 ml, volume yang dihasilkan mencapai 58 ml. volume yang dihasilkan cukup banyak dibandingkan dengan volume yang dihasilkan oleh bakteri pada perlakuan control dan pada perlakuan penambahan kultur starter Lactobacillus casei, banyaknya volume yang dihasilkan ini menunjukkan bahwa bakteri yang bekerja pada saat fermentasi asam laktat pada perlakuan ini dapat bekerja dengan baik, terbukti dari hasil volume minyak yang dihasilkan, volume minyak yang dihasilkan lumayan banyak, bnyaknya volume minyak ini menunjukkan aktifitas kerja bakteri yang bekerja saat fermentasi berlangsung. Pada perlakuan dengan penambahan kultur starter campuran yaitu penambahan kultur starter Lactobacillus casei dan Streptococcus thermophyllus, masing-masing sebanyak 2,5 ml. volume yang dihasilkan sebanyak 54 ml, volume ini menunjukkan bahwa bakteri yang bekerja dalam melakuakan fermentasi dapat bekerja dengan baik terbukti dengan dihasilkannya volume minyak yang lumayan banyak dibandingkan dengan volume minyak yang dihasilkan pada perlakuan kedua.volume minyak yang dihasilkan pada perlakuan ini sama dengan volume minyak yang dihasilkan pada perakuan control sebanyak 54 ml, volume ini menunjukkan bahwa aktifitas kerja bakteri yang bekerja secara bersamaan akan mengakibatkan volume minyak dapat bertambah banyak sebenarnya, akan tetapi saat pengambilan minyak dalam wadah tidak terambil semuanya kebanyakan yang tersisa dan dan tercampur dengan blondo. BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Pembuatan Virgin Coconut Oil ( VCO ) dapat dilakuakan melalui fermentasi asam laktat dengan penamabahan kultur starter Lactobacillus casei dan Streptococcus thermophylus, dengan menggunakan metode fermentasi ini volume minyak yang dihasilkan akan menjadi bertambah banyak, dan membuat aroma minyak harum dengan kadar pH keasaman berkisar dari 4-5. Adapun dengan perlakuan control tanpa penambahan kultur sebenarnya sudah dapat melakukan fermentasi sendiri dengan bakteri yang dikandung di dalamnya dan membuat baunya tengik dan warna minyaknya bening. Dan perlakuan campuran akan membuat aktifitas bakteri meningkat disebabkan oleh kerja bakteri yang secara bersamaan. B. Saran Harapan peneliti semoga dengan telah berakhirnya penelitian ini dapat memberikan manfaat untuk kita semua dan semoga laporan tetap praktikum mikrobiologi II ini dapat bermanfaat untuk kita semua. DAFTAR PUSTAKA Axelsson, L. 1998. Lactic Acid Bacteria : Cassification and Physiology. In Salminen, S. and A. v. Wright, Editors. Lactic Acid Bacteria Microbiology and Functional Aspects Ed. 2 Revised and Expanded. Marcel Dekker, Inc, Now York. Basel. pp 1 – 72. Rahadi, F. 20005. Cara Gampang Mengolah Virgin coconut oil ( vco ) http://megarsari.blogspot.com/2005_12_01_archive.html, diakses 21 desember 2011. Timoti, Hana. 2005. Aplikasi Teknologi Membran Pada Pembuatan Virgin Coconut Oil. PT. Nawapanca Adhi Cipta, Jakarta. Hamid, Helmi, T. Purwadaria, T. Haryati dan A.P. Sinurat. 1999. Perubahan Nilai Bilangan Peroksida Bungkil Kelapa Dalam Proses Penyimpanan Dan Fermentasi. Bina Rupa Aksara, Jakarta. Sardjono, D. Wibowo; S. Margino dan S.R. Endang. 1989. Mikrobiologi Pangan. Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Abidanish,Maret24,2011,http://produkkelapa.wordpress.com/2011/03/24/membuat-minyak-kelapa-vco-dengan-cara-fermentasi/, Desember 2011) . Yahya, D., Wibowo dan P. Darmadji. 1997. Karakteristik Bakteri Asam Laktat dan Perubahan Kimia pada Fermentasi Bekasam Ikan Mujair (Tilapis mossambica). BPPS-UGM. Yogyakarta.